Rekonstruksi Paradigma Pembangunan Indonesia Berbasis Ecoteologis
Rekonstruksi Paradigma
Pembangunan Indonesia Berbasis Ecoteologis
Muhammad Nur Ridwan Amin
Pembangunan
Indonesia selama beberapa dekade telah menitikberatkan keberhasilan pada
indikator ekonomi, seperti pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), investasi,
dan industrialisasi. Namun, pencapaian ekonomi yang semata-mata menekankan
output material seringkali mengabaikan dampak ekologis dan sosial terhadap lingkungan lingkungan hidup. Berbagai krisis
lingkungan seperti deforestasi, pencemaran lahan dan air, himgga dampak
perubahan iklim menunjukan bahwa paradigma Pembangunan konvensional tidak lagi
memadai. Rekonstruksi Paradigma Pembangunan yang berlandaskan
nilai moral-spiritual menjadi kebutuhan mendesak untuk menjawab tantangan ini.
Salah satu pendekatan yang memadukan nilai etika, spiritual, dan tanggung jawab
ekologis adalah ecoteologis.
Ecoteologis merupakan pendekatan
teologis yang memandang alam bukan semata objek eksploitasi, tetapi sebagai
Amanah yang harus dijaga. Dalam islam, manusia diposisikan sebagai khalifah
fil ardh yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan ciptaan tuhan. Konsep
ini mengajarkan bahwa relasi manusia dengan lingkungan harus dipandang dari
sudut etika, spiritualitas, dan tanggung jawab
moral (Nazar et Al., 2023). Menurut Nazar et al. (2023) Perspektif ini
sekaligus menghubungkan nilai ketuhanan
dengan praktik kehidupan sehari-hari, menjadikan ecoteologis sebagai
dasar normatif yang kuat umtuk paradigma Pembangunan berkelanjutan.
Paradigma
Pembangunan lama cenderung berpijak pada logika ekonomi yang menempatkan sumber
daya alam sebagai komoditas semata. Logika ini mengabaikan dampak ekosistem
jangka Panjang, seperti kerusakan habitat, hilangnya keanekaragaman hayati,dan
polusi yang memengaruhi kualitas hidup Masyarakat. Hal ini menunjukan bahwa
ketidakseimbangan antara tujuan ekonomi dan pelestarian lingkungan telah
menimbulkan dampak sosial-ekologis yang signifikan. Dalam konteks ini,
pendekatan Pembangunan yang eksploitatif justru memperparah ketidakadilan
lingkungan,di mana kelompok rentan menjadi pihak yang paling terdampak.
Rekonstruksi
paradigma pembangunan yang berbasis ecoteologis menuntut integrasi nilai
spiritual dan ekologis dalam kebajikan publik dam praktik pembangunan (iqbal,
2025). Ayat-ayat Al-Qur’an memberikan landasan nilai yang menegaskan tanggung
jawab manusia terhadap alam sebagai amanah, bukan pemberian untuk diambil
secara bebas. Pendekatan ini membantu membangun sintesis antara nilai-nilai
moral islam dan prinsip keberlanjutan modern, sehingga memungkinkan pembangunan
yang berpihak pada lingkungan tanpa mengorbankan kesejahteraan manusia.
Pendekatan ecoteologis
tidak hanya berhenti pada ranah kebijakan dan teori; ia juga dapat diterapkan
dalam konteks sosial, misalnya melalui Pendidikan dan kegiatan Masyarakat
(Maslani, 2024). Penilitian di lingkungan pesantren menunjukan bahwa
internalisasi nilai-nilai ekoteologi melalui Pendidikan dan kegiatan komunitas
dapat meningkatkan kesadaran ekologis dan perilaku pro-lingkungan di tingkat
akar rumput. Pendekatan partisipatif ini efektif membangun budaya peduli
lingkungan yang lahir dari nilai keimanan yang kuat.
Rekontruksi
paradigma Pembangunan berbasis ecoteologis memerlukan peran aktif semua
elemen masyarakat, khususnya generasi muda dan organisasi mahasiswa (Ramadhan
et al., 2025). Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memiliki posisi strategis
sebagai Gerakan intelektual dan moral yang berpotensi menjadi motor perubahan.
IMM dapat menginisiasi:
·
Riset
akademik untuk
mengembangkan konsep ecoteologis dalam konteks lokal Indonesia.
·
Gerakan
kampus hijau yang
menerapkan praktik ramah lingkungan di lingkungan Pendidikan
Rekonstruksi paradigma pembangunan Indonesia berbasis ecoteologis menawarkan pendekatan holistik yang menyatukan nilai moral spiritual dengan kebutuhan Pembangunan berkelanjutan. Dengan menjadikan nilai-nilai keimanan sebagai dasar etika publik, Pembangunan tidak hanya dilihat dari sisi ekonomi, tetapi juga dari aspek keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial. Model pembangunan semacam ini memungkinkan Indonesia bergerak menuju masa depan yang beradab, berkelanjutan, dan martabat.
Nazar, I.
A., Sunarto, S., & Hakim, I. N. (2023). Pengembangan konsep ekoteologi
al-Qur’an untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. AL QUDS: Jurnal Studi
Alquran dan Hadis, 7(2), 719–734. https://doi.org/10.xxxx/alquds.v7i2.xxxx
Ramadhan,
M. S., et al. (2025). Islamic ecotheology and productive zakat: A bibliometric
approach to green economy. LAA MAISYIR: Jurnal Ekonomi Islam, 12(1),
45–60. https://doi.org/10.xxxx/lamaisyir.v12i1.xxxx
Maslani.
(2024). Eco-theology: Islamic ethics and environmental transformation in
Islamic boarding schools. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 13(1),
101–118. https://doi.org/10.xxxx/ei.v13i1.xxxx
Achmaduddin,
A. A., et al. (2025). Relevansi ekoteologi dan etika keagamaan dalam mendorong
agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs) menuju Indonesia Emas 2045. Jurnal
Ilmu Sosial dan Humaniora, 14(1), 1–15.
https://doi.org/10.xxxx/jish.v14i1.xxxx
Iqbal, M.
(2025). Ekoteologi Islam: Mengintegrasikan nilai-nilai fatwa MUI No. 86 Tahun
2023 ke dalam pola hidup berkelanjutan. Jurnal Pemuliaan Lingkungan Hidup
dan Sumber Daya Alam, 2(1), 25–38.
https://doi.org/10.xxxx/lplhsda.v2i1.xxxx


Komentar
Posting Komentar