Kesehatan Mental dan Akademik
Makassar-Bunuh diri merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang
meningkat, dimana jumlahnya mencapai 700
ribu pertahun, mayoritas dialami oleh mahasiswa. Hal ini menjadi
kasus mendesak, mengingat lonjakan kasus bunuh diri di Indonesia mencapai 6,37 persen
dalam kurun waktu
lima tahun terakhir. Fenomena maraknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa
berhasil mengundang perhatian publik. Dr. Nur Ainy Fardana, M.Psi. Pakar
Psikologi Pendidikan Universitas Airlangga
(UNAIR) buka suara
merespon kejadian ini.
Menurut Dr. Nur Ainy Fardana, M.Psi. ada beberapa faktor pemicu keinginan bunuh diri pada mahasiswa. Pertama, adanya masalah kesehatan mental. Kedua, tekanan dan tuntutan yang tinggi dalam lingkup akademik dan keluarga. Ketiga, perasaan kesepian yang dikarenakan tidak adanya dukungan sosial. Keempat, masalah finansial yang serius. Terakhir, peristiwa traumatis akibat kehilangan orang terdekat atau mengalami pelecehan.
Dari hasil
wawancara yang kami lakukan dengan beberapa narasumber, salah satu penyebab
mahasiswa mengalami penurunan kesehatan mental, itu terjadi karena adanya
tekanan akademik yang dia rasakan. Sehingga ini memicu rasa cemas yang berlebihan
dan turunnya kepercaya diri. Ini juga bisa disebabkan oleh lingkungan yang
kurang mendukung, kurangnya
support dari keluarga dan teman.
Mahasiswa UNISMUH Makassar, Minggu (16/11/2025)
Contoh kasus: penemuan mayat berjenis kelamin
perempuan muda dalam
posisi gantung diri di rumah kos BTP , Kelurahan Buntusu Kecamatan
Tamalanrea Makassar. Selasa malam(16/9/25). Dari hasil penelusuran yang dilakukan, benar VYR adalah mahasiswi program magister (S2)
Administrasi Publik angkatan
2024. Saat ini yang
bersangkutan duduk di semester III, dan seharusnya dalam tahap akhir penyelesaian studi.”ungkap Ishaq ke media via WhatsAp-nya.Rabu(17/9/25).
Bangku
perkuliahan yang diharapkan mencetak generasi unggul, hanya saja ada
kemungkinan kondisi mahasiswa
yang mengalami problem kesehatan mental karena kurang
mampu beradaptasi sehingga memunculkan tekanan akademik. Neny menyebutkan tekanan akademik yang timbul dapat
mengakibatkan depresi, kecemasan, stres, gangguan makan,
gangguan tidur, penggunaan zat
adiktif, isolasi sosial, penurunan rasa percaya diri, bahkan hingga keinginan bunuh diri.
Pola tekanan akademik yang berlebihan perlahan menumbuhkan rasa takut gagal yang kerap disertai kecenderungan perfeksionisme di kalangan pelajar dan mahasiswa. Bukan lagi dorongan
rasa ingin tahu yang memotivasi mereka, melainkan ketakutan untuk berbuat salah yang kini
menjadi alasan utama mereka belajar. Kondisi ini dikenal sebagai fear of failure, yaitu kecemasan
berlebih terhadap kemungkinan gagal yang membuat
seseorang lebih fokus pada hasil daripada proses.
Dalam penelitian Agustina (2023), yang menemukan bahwa ketakutan akan penurunan self esteem sering muncul sebagai konsekuensi langsung dari fear of failure. Ketika seseorang mengalami kegagalan, mereka cenderung percaya bahwa mereka memang telah gagal, sehingga harga diri mereka menurun. Ketakutan semacam ini sering muncul pada individu yang memiliki standar tinggi untuk diri mereka sendiri dan sangat berinvestasi dalam citra diri yang mereka bangun. Jika tidak ditangani secara holistik, tekanan ini bisa berdampak pada kesehatan mental seperti stres berat, kelelahan emosional, bahkan burnout.
Menanggapi isu ini, beberapa kampus mulai menyediakan layanan dukungan seperti ruang konseling, pendampingan psikologis, pelatihan manajemen stres, hingga program pengembangan diri non-akademik. Salah satu contoh praktik baik dapat dilihat di Ma’soem University, yang menyediakan fasilitas seperti ruang konseling, layanan hipnoterapi edukatif, seminar kesehatan mental, dan konsultasi karier. Upaya ini bertujuan menciptakan lingkungan kampus yang peduli terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa, terutama di masa-masa penuh tekanan seperti menjelang ujian atau tugas akhir.
“Ketika mahasiswa
merasa didengar dan didukung, mereka bukan hanya
lebih sehat, tapi juga lebih
produktif dan berkembang,” ujar salah satu dosen pembimbing di Universitas Airlangga.
Semangat kampus tidak hanya tercermin dari capaian akademik, tetapi juga dari bagaimana kampus mampu menjaga, merawat, dan menguatkan mentalitas mahasiswa dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan dan kehidupan. Kita memuji ketekunan, namun kita mengabaikan kelelahan di mata mereka. Artikel ini telah menunjukkan bahwa otak yang kurang istirahat justru lebih sulit menyerap informasi baru.
Karena pada akhirnya, mental yang sehat adalah fondasi
utama dari pendidikan yang berkualitas.



Komentar
Posting Komentar