MEMBANGUN SOSOK PEREMPUAN YANG AUTENTIK DAN BERDAYA

 MEMBANGUN SOSOK PEREMPUAN YANG AUTENTIK DAN BERDAYA

IMMawati Sulastri
(Alumni Diksuswati 1 Pikom IMM FEB Unismuh Makassar)

Peran perempuan dalam ranah domestik pada masa lalu menunjukkan bahwa mereka memiliki kontribusi yang besar dalam berbagai aspek kehidupan, meskipun sering kali tidak terlihat atau dihargai secara memadai. Pengakuan terhadap peran mereka penting untuk memahami sejarah secara lebih menyeluruh dan adil. Perempuan di masa lalu sangat erat dikaitkan dengan ranah domestik, yaitu kehidupan rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, mengasuh anak, dan melayani suami. Hal ini tidak hanya menjadi kebiasaan, tetapi juga bagian dari aturan sosial, budaya, dan kepercayaan yang berlangsung secara turun-temurun.

Dalam era modern ini, peran perempuan semakin luas dan beragam. Perempuan tidak hanya berperan di dunia domestik seperti pada masa lalu, tetapi juga turut andil dalam dunia pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik. Hal ini didukung oleh penelitian yang menyebutkan bahwa partisipasi perempuan dalam berbagai sektor publik mengalami peningkatan signifikan seiring dengan meningkatnya akses terhadap pendidikan dan kesadaran gender (Savitri & Haryanto, 2020).

Banyak perempuan mengalami krisis kepercayaan diri. Hal ini bisa dipicu oleh rasa kurang puas terhadap penampilan fisik, merasa tidak cukup baik dalam kemampuan atau keterampilan, serta sering mendengar perkataan negatif atau penilaian dari orang lain. Permasalahan ini membuat perempuan ragu terhadap dirinya sendiri, tidak berani menyuarakan pendapat, serta takut mengambil keputusan. Akibatnya, potensi mereka sering kali tidak tergali secara maksimal. Menurut UN Women (2011), stereotip gender dan tekanan sosial berkontribusi terhadap rendahnya kepercayaan diri perempuan dalam berbagai ranah kehidupan.

Seiring dengan proses pengembangan diri yang dilakukan secara konsisten, perempuan mulai menyadari kemampuannya. Ia menjadi pribadi yang lebih tenang dan siap menghadapi masalah, tidak mudah panik dalam situasi sulit, berani mengambil keputusan dan menyuarakan pendapat, serta memahami bahwa kesempurnaan bukanlah syarat untuk percaya diri. Dengan proses ini, rasa percaya diri tumbuh secara alami dan mendalam, bukan hanya sebagai topeng, tetapi sebagai bagian dari jati diri. Hal ini sejalan dengan pendapat dalam artikel di Fimela.com (2024) yang menegaskan bahwa kepercayaan diri sejati terbentuk dari penerimaan diri dan pengalaman mengatasi tantangan hidup, bukan dari pencitraan semata.

Pengembangan diri bisa dilakukan dengan banyak cara, contohnya: belajar hal-hal baru untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan, melatih cara berkomunikasi agar bisa lebih efektif dan percaya diri dalam menyampaikan pikiran, mengasah keterampilan yang dimiliki agar merasa lebih kompeten, serta menerima proses perkembangan diri sebagai bagian dari kekuatan, bukan kelemahan.

Solusi ini bukan hanya membantu mengatasi masalah kepercayaan diri, tetapi juga membentuk perempuan menjadi pribadi yang kuat, berani, dan siap menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan. Saat perempuan terus belajar dan berkembang, ia akan lebih mengenal kemampuannya dan menyadari bahwa ia bisa melakukan hal-hal hebat. Dari situ, rasa percaya diri akan tumbuh secara alami. Sebagaimana disampaikan oleh UNESCO (2022), pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan terbukti meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian dalam berbagai aspek kehidupan.

 

Referensi:

Fimela.com. (2024). Rahasia percaya diri: Bukan soal harus sempurna, tapi penerimaan diri. https://www.fimela.com/lifestyle/read/5909853/rahasia-percaya-diri-bukan-soal-harus-sempurna-tapi-penerimaan-diri

Savitri, F., & Haryanto, J. T. (2020). Partisipasi Perempuan dalam Sektor Publik. Jurnal Sosiologi, 15(2), 123-135.

Sawwa: Jurnal Studi Gender. (2021). Peran Perempuan di Ranah Domestik dan Publik.

UN Women. (2011). Countering gender discrimination and negative gender stereotypes: Effective policy responses. https://www.unwomen.org/en/news/stories/2011/7/countering-gender-discrimination-and-negative-gender-stereotypes-effective-policy-responses

UNESCO. (2022). Empowering Women through Education.



Komentar