MEMBANGUN SOSOK PEREMPUAN YANG AUTENTIK DAN BERDAYA
MEMBANGUN SOSOK PEREMPUAN YANG AUTENTIK DAN BERDAYA
Peran perempuan dalam ranah
domestik pada masa lalu menunjukkan bahwa mereka memiliki kontribusi yang besar
dalam berbagai aspek kehidupan, meskipun sering kali tidak terlihat atau
dihargai secara memadai. Pengakuan terhadap peran mereka penting untuk memahami
sejarah secara lebih menyeluruh dan adil. Perempuan di masa lalu sangat erat
dikaitkan dengan ranah domestik, yaitu kehidupan rumah tangga seperti memasak,
membersihkan rumah, mengasuh anak, dan melayani suami. Hal ini tidak hanya
menjadi kebiasaan, tetapi juga bagian dari aturan sosial, budaya, dan
kepercayaan yang berlangsung secara turun-temurun.
Dalam era modern ini, peran
perempuan semakin luas dan beragam. Perempuan tidak hanya berperan di dunia
domestik seperti pada masa lalu, tetapi juga turut andil dalam dunia
pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik. Hal ini didukung oleh penelitian yang
menyebutkan bahwa partisipasi perempuan dalam berbagai sektor publik mengalami
peningkatan signifikan seiring dengan meningkatnya akses terhadap pendidikan
dan kesadaran gender (Savitri & Haryanto, 2020).
Banyak perempuan mengalami krisis
kepercayaan diri. Hal ini bisa dipicu oleh rasa kurang puas terhadap penampilan
fisik, merasa tidak cukup baik dalam kemampuan atau keterampilan, serta sering
mendengar perkataan negatif atau penilaian dari orang lain. Permasalahan ini
membuat perempuan ragu terhadap dirinya sendiri, tidak berani menyuarakan
pendapat, serta takut mengambil keputusan. Akibatnya, potensi mereka sering
kali tidak tergali secara maksimal. Menurut UN Women (2011), stereotip gender
dan tekanan sosial berkontribusi terhadap rendahnya kepercayaan diri perempuan
dalam berbagai ranah kehidupan.
Seiring dengan proses pengembangan
diri yang dilakukan secara konsisten, perempuan mulai menyadari kemampuannya.
Ia menjadi pribadi yang lebih tenang dan siap menghadapi masalah, tidak mudah
panik dalam situasi sulit, berani mengambil keputusan dan menyuarakan pendapat,
serta memahami bahwa kesempurnaan bukanlah syarat untuk percaya diri. Dengan
proses ini, rasa percaya diri tumbuh secara alami dan mendalam, bukan hanya
sebagai topeng, tetapi sebagai bagian dari jati diri. Hal ini sejalan dengan
pendapat dalam artikel di Fimela.com (2024) yang menegaskan bahwa kepercayaan diri sejati
terbentuk dari penerimaan diri dan pengalaman mengatasi tantangan hidup, bukan
dari pencitraan semata.
Pengembangan diri bisa dilakukan
dengan banyak cara, contohnya: belajar hal-hal baru untuk meningkatkan wawasan
dan kemampuan, melatih cara berkomunikasi agar bisa lebih efektif dan percaya
diri dalam menyampaikan pikiran, mengasah keterampilan yang dimiliki agar
merasa lebih kompeten, serta menerima proses perkembangan diri sebagai bagian
dari kekuatan, bukan kelemahan.
Solusi ini bukan hanya membantu
mengatasi masalah kepercayaan diri, tetapi juga membentuk perempuan menjadi
pribadi yang kuat, berani, dan siap menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan.
Saat perempuan terus belajar dan berkembang, ia akan lebih mengenal
kemampuannya dan menyadari bahwa ia bisa melakukan hal-hal hebat. Dari situ,
rasa percaya diri akan tumbuh secara alami. Sebagaimana disampaikan oleh UNESCO
(2022), pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan
terbukti meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian dalam berbagai aspek
kehidupan.
Referensi:
Fimela.com. (2024). Rahasia percaya diri: Bukan soal harus sempurna,
tapi penerimaan diri. https://www.fimela.com/lifestyle/read/5909853/rahasia-percaya-diri-bukan-soal-harus-sempurna-tapi-penerimaan-diri
Savitri, F., &
Haryanto, J. T. (2020). Partisipasi Perempuan dalam Sektor Publik. Jurnal
Sosiologi, 15(2), 123-135.
Sawwa: Jurnal Studi
Gender. (2021). Peran Perempuan di Ranah Domestik dan Publik.
UN Women. (2011). Countering gender discrimination and negative
gender stereotypes: Effective policy responses. https://www.unwomen.org/en/news/stories/2011/7/countering-gender-discrimination-and-negative-gender-stereotypes-effective-policy-responses
UNESCO. (2022). Empowering Women through Education.



Komentar
Posting Komentar