Refleksi Hari Kartini 2026: Perempuan di Tengah Realitas Zaman Digital
![]() |
| Oleh IMMawati Isma Stefani (Ketua Bidang IMMawati Pikom IMM FEB Unismuh Makassar Periode 2025-2026) |
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan kesetaraan. Pemikiran Kartini yang tertuang dalam karya “Habis Gelap Terbitlah Terang” tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga tetap hidup dan kontekstual dalam kehidupan perempuan di era modern saat ini.
Kondisi masa kini, perempuan telah menglami kemajuan signifikan di berbagai bidang kehidupan. Akses terhadap pendidikan semakin terbuka luas, partisipasi perekonomian dalam dunia kerja semakin meningkat, serta keterlibatan dalam ruang publik dan kepemimpinan semakin terlihat. Namun, realitas kehidupan sekarang menunjukan bahwa perjuangan tersebut belum sepenuhnya selesai. Perempuan masih dihadapkan dengan tantangan kompleks, seperti tekanan standar sosial di media digital, ketimpangan kesempatan kerja, hingga maraknya kekerasan berbasis gender, termasuk di ruang siber.
Era digital menghadirkan tantangan baru bagi perempuan yang tidak hanya berkaitan dengan batasan fisik, tetapi juga dengan konstruksi sosial yang tersebar luas melalui media sosial dan berbagai platform digital. Fenomena seperti body shaming, cyberbullying, dan tuntutan citra “sempurna” menjadi tekanan tersendiri yang memengaruhi kondisi psikologis dan kepercayaan diri perempuan. Paparan standar kecantikan yang tidak realistis secara terus menerus bisa mendorong munculnya rasa tidak puas terhadap diri sendiri, bahkann berpotensi menimbulkan gangguan mental
Selain itu, perempun masa kini dihadapkan pada dilema peran, yaitu antara tuntutan profesional dan ekspektasi domestik. Dalam banyak kasus, perempuan masih dibebani standar ganda: dituntut untuk sukses dalam karir, tetapi juga harus memenuhi peran tradisional dalam keluarga. Hal ini menunjukan bahwa budaya patriarki belum sepenuhnya hilang, melainkan mengalami transformasi dalam bentuk yang lebih halus.
Meski demikian, semangat Kartini justru menemukan bentuk barunya di era sekarang. Perempuan tidak lagi hanya untuk memperjuangkan hak untuk belajar, tetapi juga untuk berpendapat, berkarya, dan menentukan arah hidupnya sendiri. Banyak perempuan muda kini menjadi pelaku perubahan, baik sebagai akademisi, pengusaha, aktivis sosial, maupun kreator digital yang berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif.
Relevansi Hari Katrini 2026 terletak pada kesadaran bahwa emansipasi bukan sekedar kebebasan, melainkan tanggung jawab. Perempuan perlu membekali diri dengan pendidikan, keterampilan serta nilai moral agar mampu menghadapi tantangan zaman. Literasi digital, kemampuan berfikir kritis, dan ketahanan mental menjadi kebutuhan utama dalam menjaga eksistensi diri ditengah arus informasi yang begitu cepat.
Lebih jauh, semangat kartini dimasa kini juga harus dimaknai sebagai upaya menjaga martabat diri. Ditengah kebebasan berekspresi, perempuan tetap memiliki hak untuk menetapkan batasan, menjaga kehormatan, dan tidak terjebak dalam arus yang merugikan diri sendiri. Emansipasi yang sejati adalah ketika perempuan mampu menjadi dirinya sendiri tanpa kehilangan nilai dan prinsip yang diyakininya.
Dengan demikian, Hari Kartini 2026 bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi tentang membaca realitas dan merensponnya dengan bijak. Perjuangan telah membuka jalan, dan perempuan masa kini melanjutkannya dengan cara yang lebih kompleks dan dinamis. Di tengah dunia yang berubah, perempuan Indonesia diharapkan tetap teguh, cerdas, dan berdaya menjadi cahaya yang tidak hanya menerangi dirinya sendiri, tetapi juga lingkungan sekitarnya.



Komentar
Posting Komentar