GENERASI SERBA TAHU, TAPI TAK MAU TAHU
Generasi Serba Tahu, Tapi Tak Mau Tahu?
Di era digital seperti sekarang ini, semua hal mudah di lakukan tinggal mengetik apa yang ingin di ketahui maka dengan mudah jawaban akan terlihat. Perkembangan zaman yang cukup pesat dari telepon genggam hingga Artificial Intelligence (AI) atau yang biasa di sebut AI kini sangat berkembang dan memberikan kemudahan bagi para pengguna.
Kemudahan yang di dapat sekarang pun kini menjadi ancaman bagi manusia, perkembangan digital ini menimbulkan Pro dan Kontranya sehingga menjadi puncak perdebatan di kalangan manusia, ada yang menjadi banyak tahu mengenai banyak hal dengan mudah dan ada yang menjadi pemalas karena kemudahan untuk mendapatkan pengetahuan dan yah itu terjadi di kalangan anak muda di zaman sekarang. Tak sedikit anak muda yang menggunakan AI bukan untuk memperdalam pemahaman, tapi hanya untuk menyelesaikan tugas secara cepat, tanpa membaca, berpikir, atau memahami.
Survei global dari Digital Education Council menunjukkan
bahwa 86 % mahasiswa kini mengintegrasikan AI dalam studi mereka. Sebanyak 54 %
menggunakannya minimal seminggu sekali, dan 24 % bahkan setiap hari. Di dunia
kerja, 58 % pekerja telah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka dari 2022
hingga 2024. Ini membuktikan tingginya ketergantungan pada teknologi. Lalu, di
mana letak masalahnya?
Permasalahannya ada pada pada pola pikir yang terbentuk. Kecepatan menjadi prioritas, pemahaman yang terlupakan. Anak muda lebih suka hasil instan dibanding proses belajar yang menantang. Budaya literasi tergeser oleh budaya scroll. Artikel panjang kalah dengan video pendek. Diskusi tergantikan oleh komentar singkat. Padahal, informasi tanpa pemahaman adalah ilusi pengetahuan.
Di sini organisasi juga memiliki peran sebagai agen
perubahan. Dimulai dari organisasi pelajar, mahasiswa, maupun komunitas
kepemudaan yang tidak hanya menjadi tempat berhimpun, tapi juga ruang untuk
membentuk karakter, menumbuhkan semangat belajar, berdiskusi, serta membangun
tradisi berpikir kritis dan reflektif.
Organisasi bisa menjadi tempat untuk mengembalikan budaya
literasi yang sehat melalui kajian, diskusi, pelatihan menulis, hingga forum
yang mendorong anggotanya tidak sekadar tahu, tapi benar-benar memahami.
Organisasi juga bisa menanamkan nilai bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan
pengganti proses belajar.
Lebih dari itu, organisasi menjadi wadah aktualisasi diri,
tempat anak muda belajar bertanya, menyanggah, menyampaikan gagasan, dan tumbuh
menjadi generasi yang berpikir mandiri. Melalui kegiatan-kegiatan kolektif
seperti seminar, diskusi, pengabdian masyarakat, dan kajian ilmiah, organisasi
mendorong anggotanya untuk tidak hanya menjadi pengguna informasi, tapi juga
penghasil pengetahuan.
Tentu, ini bukan perkara mudah. Teknologi digital memang
dirancang untuk memanjakan kecepatan, bukan kedalaman. Tapi organisasi bisa
menjadi penyeimbang. Ia bisa membentuk ekosistem yang sehat yang menumbuhkan
rasa ingin tahu, bukan sekadar keinginan untuk terlihat tahu.
Masih ada harapan. Di tengah derasnya konten instan, masih
banyak anak muda yang haus ilmu, gemar membaca, dan aktif bertanya. Namun,
harapan itu perlu disokong bersama, melalui peran aktif keluarga, sekolah,
pemerintah, dan terutama organisasi.
Karena pada akhirnya, generasi yang hanya “tahu” tapi tidak
“ingin tahu” hanya akan jadi penonton dalam perubahan zaman bukan pelaku
utamanya. Dan organisasi adalah salah satu ruang penting agar anak muda tidak
sekadar tahu, tapi juga mampu menggali, memahami, dan memberi makna.
Referensi
Digital Education Council
(August 7, 2024) What Students
Want: Key Results from DEC Global AI Student Survey 2024
https://www.digitaleducationcouncil.com/
post/what-students-want-key-results-from-dec-global-ai-student-survey-2024?utm_source=chatgpt.com
Informatika teknokrat
(3 may) PENGGUNAAN TEKNOLOGI ARTIFICIAL INTELLIGENCE DI KEHIDUPAN SEHARI-HARI
https://informatika.teknokrat.ac.id/author/ekowek/
(15 Oktober 2024) Teknologi
Artificial Intelligence dalam Kehidupan Generasi Muda



Komentar
Posting Komentar