Literasi dan Filterisasi Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sebagai Panggung Suluh Peradaban

"Literasi dan Filterisasi Paradigma Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sebagai Panggung Suluh Peradaban"
Kakanda IMMawan Wahyudin Yahya
(Sekbid MK PK IMM FEB Periode 2021-2022)
 
          Keberhasilan suatu negara dilihat dari kualitas anak bangsanya, salah satunya yakni sosok pemuda. Pemuda memiliki peran yang besar bagi perubahan yang terjadi terkhusus kepada mahasiswa, ada dua kedudukan mahasiswa bagi struktur masyarakat yakni, pertama merupakan bagian dari generasi muda yang merupakan pelanjut dan pengisi dari pembangunan bangsa. Yang kedua adalah merupakan kaum intelektual. Itulah mengapa mahasiswa sering disebut sebagai agent of changes (agen perubahan) (Fathoni, 1990). 
          Sosok mahasiswa memiliki andil yang besar untuk tatanan kehidupan jika memiliki integritas yang tinggi dan loyalitas, seperti yang biasa terlihat mahasiswa sebagai penyambung lidah aspirasi masyarakat jika terjadi kejanggalan atas kebijakan pemerintah. Menjadi mahasiswa tidaklah sekedar mahir berteori tapi mampu memanifestasikannya. Itulah mengapa menjadi sosok mahasiswa memiliki sebuah amanah yang berat untuk di pikul, akan menjadi mudah menjadi seorang mahasiswa jika hanya ingin berpangku tangan tanpa peduli terhadap kondisi yang sedang terjadi.
          Proses manifestasi tidaklah semena-mena begitu saja. Sosok mahasiswa harus memiliki semangat literasi dan memahami budaya literasi agar bisa menjadi tonggak peradaban, sebagaimana menurut Kirsch & Jungeblut dalam buku Literacy : Profil Of America’s Young Adult mendefenisikan literasi sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Melalui semangat literasilah mahasiswa mampu mendengar, melihat dan menyikapi sebuah problem (Welss dalam Irianto dan Febrianti, 2017). 
          Mahasiswa yang picik akan dunia literasi cenderung bungkam terhadap kemiluk yang terjadi karena tidak memiliki pegangan, sehingga inilah yang menjadi salah satu alasan pentingnya mahasiswa terjun dalam budaya lierasi. Apa lagi seorang kader Ikatan mahasiswa Muhammadiyah, semangat-semangat seorang literat harus terpatri didalam tubuh kader ikatan mahasiswa Muhammadiyah, karena IMM merupakan anak “intelektual” Muhammadiyah. Ini pula yang menjadi satu-satunya alasan fundamental mengapa IMM lahir di pangkuan Muhammadiyah dan berada di perut bumi pertiwi ini, karena alasan intelektualisme (Amirullah dalam Sholeh, 2017). 
          Seorang literat harus bisa mengelaborasikan kesemua hal tersebut. Menurut Wells terdapat empat tingkatan literasi, yaitu performative, functional, informational, dan  epistemic. Literasi tingkatan pertama sekedar mampu membaca dan menulis, literasi tingkatan kedua menunjukkan kemampuan menggunakan bahasa untuk keperluan hidup atau skill for survival  (seperti membaca manual, mengisi formulir, dsb), literasi tingkatan ketiga menunjukkan kemampuan mengakses pengetahuan, dan literasi tingkatan keempat kemampuan mentransformasikan pengetahuan (Wells dalam Irianto dan Febrianti, 2017). 
          Kader IMM harus bisa menguasai dan mengaktualisasikan keempat tingkatan litersi dari Wells. Kemudian dari keempat tingkatan tersebut ditumbuhkembangkan, sehingga budaya literasi yang dimiliki seorang kader IMM bukan hanya sebagai konsumsi pribadi tapi bagaimana bisa menyajikannya kepada seluruh khalayak sehingga bernilai manfaat bagi kehidupannya, orang sekitar dan khalayak umum. Budaya literasi dapat memantik nalar kritis seorang kader IMM untuk melakukan gebrakan-gebrakan sosial untuk sebuah peradaban. 
          Bergelutnya seorang kader IMM didunia literasi hingga menjadi sosok literat bukanlah hal yang tabu dan bukanlah sebuah permasalahan tapi sebuah kewajiban sebagai sosok manusia. Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah mengatakan bahwasanya menuntut iilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, itulah mengapa seorang kader IMM harus memiliki khazanah intelektual. Menjadi seorang literat bukanlah sebuah kerugian, tapi merupakan salah satu jalan untuk menggapai derajat yang tinggi. 
          Termaktub dalam Qs. Al-Mujadilah ayat 11yang artinya “Wahai orangorang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan didalam dalam majelis-majelis,”maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derjat. Dan Allah Maha teliti terhadap apa yang kamuu kerjakan.” Dari ayat diatas dijelaskan akan kesetaraan iman dan ilmu pengetahuan serta janji Allah terhadap orang yang berilmu dan beriman. 
          Nalar kritis  timbul dikarenakan kegemaran akan budaya literasi yang kemudian memicu timbulnya proses membaca kritis. Itulah pentingnya mengapa kader IMM harus gencar dalam dunia literasi, agar dalam merespon suatu hal tidaklah berfikir pragmatis tapi idealis. Menurut Priyanti dan Nurhadi membaca kritis dan membaca pemahaman adalah dua hal yang berbeda. Membaca kritis merupakan sub-keterampilan. Membaca pemahaman, membaca kritis tidak hanya memahami teks secara tersurat atau tersirat, tetapi juga memahami bacaan secara tersorot (reading beyond the lines) (Priyanti dan Nurhadi dalam Amalia dan Nadya, 2020) 
          Membaca kritis merupakan proses dari filterisasi sebuah problem yang tersaji, kini yang menyebabkan biasa terjadinya perselisihan yakni dari proses penafsiran setiap individu itu berbeda namun menganggap perspektifnya yang paling benar tanpa mempertimbangkan buah pemikiran seseorang. Kebiasaan berfikir pragmatis haruslah di hilangkan sedikit demi sedikit agar mampu menghasilkan buah pemikiran yang idealis. Sehingga saat terjadi perbedaan perspektif maka itu akan menjadi bahan pengkajian, jika terdapat kekeliruan cukup sampai disitu saja jangan sampai bergulir itulah pentingnya filterisasi. 
          Maraknya berita hoax yang terus bergulir juga disebabkan karena tidak terjadinya proses filterisasi paradigma oleh individu dalam menyikapi kejadian. Masyarakat condong menyantap mentah-mentah berita ataupun problem, namun bukan hanya menyantapnya secara personal tapi lebih mirisnya berita bohong tersebut dihidangkan pula ke masyarakat yang lain dari suatu tempat ke tempat yang lain, sehingga mata rantai perguliran hoax tidak akan terhenti jika masih terus hidangkan dan tidak adanya kesadaran invidu. Disinilah fungsi kaum intelektual yakni kader IMM untuk bisa menghentikan proses perguliran hidangan tersebut. 
          Kader IMM yang acuh tak acuh terhadap kemiluk yang terjadi, tidak akan menjadi sosok suluh peradaban. Maka peran kader IMM sebagai kaum intelektual senantiasa merecovery pengetahuan kita, sehingga paradigma ini akan terfilterisasi jika dihadapkan akan permasalaahan. Masyarakat membutuhkan sosok kader IMM, maka kader IMM harus bisa mewasathiyakan setiap permasalahan yang terjadi, dimana hal ini akan terwujud jika filterisasi paradigma dari hasil literasi ini bisa diejawantahkan.  
          Paradigma yang terfilterisasi didalam diri kader IMM adalah sebuah keharusan karena seorang kader IMM adalah kaum intelektual, sehingga harus membuahkan cetusan-cetusan yang mampu mewasathiyakan persoalan. Menurut hematnya Thomas Khun, paradigma dapat didefenisikan sebagai seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis membentuk sebuah kerangka pemkiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan kenyataan dan/ atau masalah yang dihadapi. Jika pandangan Thomas Khun ini bisa di maknai kader IMM, maka kader IMM mampu menjadi salah satu patriot bangsa sebagai suluh peradaban. 
          Pencapaian idealisme kader akan tercapai, jika kader IMM bisa memfilterisasi paradigmanya, karena menurut George Ritzer paradigma tentang gambaran fundamental mengenai subjek ilmu pengetahuan. Ia memberikan batasan apa yang harus dikaji, pernyataan yang harus diajukan, bagaimana harus dijawab dan aturan-aturan yang harus diikuti dalam memahami jawaban yang diperoleh. Proses filterisasi jika ditinjau dari pernyataan George Ritzer yakni proses pengkajian, sehingga sebelum melontarkan sebuah perspektif dimuka umum maka itu tinggal menggiring kepada hal-hal yang notabenennya mampu menghasilkan hoax.  
          Namun, sayangnya masih banyak kemiluk yang terpatri didalam tubuh kader IMM saat ini. Kader IMM masih banyak yang picik terhadap dunia literasi, sehingga masih lumpuh dan kaku  bernalar kritis dan masih kurang kesadaran filterisasi sebuah paradigma dari masing-masing kader, menyebabkan paradigma kader belum terfilterisasi sehingga cenderung lebih pragmatis dalam menyikapi problematika. Masih passifnya respon terhadap wadah untuk budaya literasi dikalangan kader IMM. 
          Bermodalkan budaya literasi dan filterisasi paradigma sehingga bernalar kritis, tidaklah cukup untuk bagaimana mewujudkan trilogi ikatan di dalam tubuh kader IMM. Karena sehebat-hebatnya intelektualitas kader dan selebar-lebarnya jangkauan humnitas kader tidaklah cukup. Diperlukan pula perwujudan religiusitas untuk berada ditingkatan teratas, agar tertanam dalam tubuh kader IMM sebuah kontrol untuk memfilter tindakan yang akan dilakukan sehingga seorang kader IMM mampu menjadi suluh peradaan .  
          Ketika dalam diri kader picik terhadap dunia literasi, kader cenderung akan bungkam karena masih kurangnya asupan pustaka literasi didalam paradigmanya. Bahkan masih banyak kader IMM yang salah menafsirkan sebuah problem karena tubuhnya lumpuh dan sekan kaku saat menghadapi problem sehingga ujungnya akan  menggiring pada pemikiran pragmatis. Padahal sejatinya seorang kader IMM adalah kader yang ideal jika ditinjau dari trilogi ikatan. 
          Upaya untuk mengaktualisasikan trilogi ikatan itu terus diupayakan. Seperti halnya di pikom IMM Polongbangkeng Kabupaten Takalar, pada saat ini meskipun pandemi covid-19 merajalela namun usaha badan pengurus harian untuk merecovery spiritualitas, intelektualitas dan humanitas kader terus bergulir. Di dunia spiritualitas kader digenjot dengan asupan dakwah baik melalui tulisan (quotes) ataupun melalui video animasi yang di desain sedemikian rupa agar menarik minat pembaca wabilkhusus pada kader pikom IMM Polongbangkeng Kabupaten Takalar  itu sendiri. 
          Dunia intelektualitas kader digenjot oleh badan pengurus harian dengan terus menyajikan sebuah wadah diskusi online, agar bagaimana seorang kader bisa menambah khazanah pengetahuannya, baik itu melalui media group whatssapp, live instagram, google meet dan zoom meeting. Untuk humanitas, badan pimpinan harian terus merespon aksi tanggap bencana walaupun sedang maraknya perguliran wabah pandemi covid-19. Namun, seorang kader IMM harus pandai membaca situasi dan suasana serta harus progresif, dan hal ini dilakukan dengan cara aksi sosial melalui media sosial yakni penggalangan dana melalui media yang tersedia.  Terbukti bahwasanya kreatifitas kader IMM tidak akan mati baik dalam situasi apapun karena pandainya seorang kader mewasathiyahkan keadaan. Berlandasakan hasil cermatan literasi yang dilalui, berdasarkan paradigma ideal seorang kader IMM dan juga berdasarkan atas hasil pembacaan kritis seorang kader terhadap kondisi sosial. Itulah mengapa kemudian kader IMM harus mampu menjadi penyuluh peradaban, yang diawali atas kesadaran individual kader itu sendiri. 
          Sejatinya hal tersebut terus dibalut sedemikian rupa agar kader IMM tetap ideal, tapi masih ada kader IMM yang merasa hal itu belum cukup untuk kebutuhannya. Sehingga banyak kemudian kader yang ogah-ogahan terhadap hal tersebut bahkan cenderung akan lebih banyak kader lepas, disini badan pengurus harian harus memikirkan ide-ide kreatif lainnya yang bisa menggait kader. Jangan sampai melalui proses DAD hanya berdasarkan kepentingan pribadi dan setelah melaksanakan DAD akan melupakan IMM. 
          Jalan yang bisa ditempuh, yakni merenovasi proses pengkaderan, seperti memberikan forum selingan indoor dan outdoor selama proses perkaderan DAD, agar kader tidak merasa penat didalam  forum. Forum outdoor ini bisa dilakukan disekitaran pantai, pegunungan ataupun tempat bersejarah lainnya agar kader akan lebih bereuforia akan hal ini. Kemudian jika IMM hanya mengakhiri proses perkaderan DAD dengan malam pembaiatan, berdasarkan empiris penulis, proses perkaderan dilakukan selama 10 hari. 
          Waktu 10 hari akan maksimal lebih untuk menanamkan proses pembiasan tersebut, sepekan dilakukan di forum indoor dan outdoor dan tiga hari lainnya digunakan untuk memanifestasikan nilai-nilai yang telah didapatkan. Mislanya seorang calon IMMawan menjadi muadzin, menjadi seorang imam sholat dan menjadi seorang muballigh di mesjid-mesjid, begitupun dengan calon IMMawati. Pembagiannya bisa dilakukan berdasarkan kelompok peserta forum DAD dan yang menjadi penanggung jawab adalah kakanda instruktur yang menjadi pendamping kelompok.  
          Manifestasi semacam ini bisa membuat calon IMMawan dan IMMawati mengasah potensinya dan dari hasil pengetahuan selama berada di penjara suci tersebut, hal ini akan membuat peserta forum DAD tersadarkan bahwasanya berIMM itu menyenangkan. Kemudian, setelah proses DAD lahirlah sosok IMMawan dan IMMawati yang perlu pengawalan oleh para badan pengurus harian dan pimpinan, proses pengawalan dengan dengan memberikan kartu follow up. Nah sistem yang awam ditemukan dengan memberikan kartu follow up setiap kader yang wajib disii sesuai dengan jumlah yang tertera agar bisa mendapatkan syahadah “katanya”, tapi nyatana ini tidaklah terealisasikan. 
          Berdasarkan empiris penulis, banyak kemudian kader yang tidak melakukan follow up bahkan ada kader yang sama sekali tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di IMM setelah DAD. Tapi setelah membutuhkan syahadah untuk syarat kelulusan maka barulah terlihat wajahnya. Langkah yang bisa ditempuh dengan membuktikan pernyataan seorang badan pengurus harian, bahwasanya memang benar jika tidak tuntas persoalan follow up di kartu yang diberikan maka tidak akan mendapat lembaran syahadah. 
          Kartu follow up yang berbahan dasar kertas tidaklah relevan karena akan mudah lebur dan hilang, berhubung karena saat ini teknologi sedang gencargencarnya. Maka perlunya sebuah aplikasi yang bisa menggantikan fungsi kartu follow up berbahan dasar kertas itu. Aplikasi tersebut bisa diberi nama E-Follow Up Card dan fungsinya bisa menscan barcode kajian yang telah disediakan badan pengurus harian, sebagai tanda bukti telah mengikuti follow up.  
          E-Follow Up Card  memiliki sistem, selain sebagai absen untuk kader baru juga didalamnya tersedia materi yang telah dipaparkan pemateri, baik dalam bentuk teks maupun video animasi. Hal ini ditempuh agar IMMawan dan IMMawati yang baru keluar dari forum DAD bisa me-rewind materi tersebut. Jalan ini akan membuat tunas-tunas muda IMM akan terbiasa tentang budaya literasi, karena sebuah kebudayaan itu berawal dari sebuah kebiasaan.  
          Realisasi program ini tidaklah sulit bagi kader IMM, karena stakeholder seorang kader IMM melambung jauh. Bahkan IMM memiliki seorang yang ahli dibidang IT, inilah kemudian yang harus difasilitasi. Agar bisa memfasilitasi kader yang baru selesai melaksanakan proses DAD. Sistem pengoperasian E-Follow Up Card dirancang sederhana agar semua kader IMM paham menggunakannya, namun hal itu bukanlah sebuah masalah karena kaulah mudah saat ini tidak picik akan penggunaan smartphone dan perangkat yang ada didalamnya apatahlagi kader IMM. 
          Pemberian materi follow up juga harus disesuaikan dengan kondisi minat kader, seperti melakukan follow up outdoor. Berdasarkan empiris penulis, saat ini kader muda IMM condong senang dengan hiburan dan liburan, maka dengan kegemaran tersebut, follow up outdoor bisa dibalut dengan liburan seperti mendaki gunung ataupun camping. Hal ini secara tidak langsung memicu rasa senang kader muda, pimpinan semua elemen kader di IMM. 
          Saat ini sedang maraknya dunia youtube, disini bisa menjadi ajang untuk kader IMM bisa menyiarkan dakwah. Melalui sebuah podcast di youtube, IMMawan dan IMMawati kader baru dituntut untuk sebulan sekali perorangnya  membuat kultum sesuai tema dari badan pengurus harian, bukan hanya kultum tapi bagaimana membuat tutorial tentang tata cara bersuci maupun tata cara sholat sesuai himpunan putusan tarjih, serta membaca sebuah ayat dan mentadabburinya. Ini akan menjadi pengejawantahan dari follow up itu sendiri, selain bertujuan untuk memperkokoh spiritualitas kader IMM hal ini bisa dijadikan program kerja dibidang tabligh dan kajian keislaman. 
          Tidak berhenti sampai disitu saja, berlanjut dari follow up kader baru. Seorang badan pengurus harian harus memassifkan aksi-aksi sosial lainnya. Saat ini, kader cenderung digiring hanya untuk donor darah dan juga penggalangan untuk membantu sanak saudara yang sedang tertimpah musibah, hal ini sangatlah baik tapi diperlukan inovasi baru. Karena menurut empiris penulis, saat tidak ada lagi bencana maka seakan tidak ada lagi kerja-kerja kader IMM terkhusus pada bidang sosial pemberdayaan masyarakat, sehingga nama IMM tidak bergema lagi. 
          Cara yang baik untuk mengasah humanitas seorang kader, yakni dengan membuat sebuah maktab  sederhana disebuah perkampungan kecil. Kita ambil contoh di kabupaten Takalar, pimpinan bisa mendirikan langgar di pulau Tanakeke. Disana kualitas pendidikan masih rendah, disini kader IMM di kabupaten Takalar terkhusus kepada pikom IMM Polongbangkeng Takalar bisa mendirikan maktab yang mengajarkan anak-anak pulau Tanakeke tentang membaca, menulis, mengenalkan huruf hujaiyah, membaca al-quran serta berwirausaha memanfaatkan keunggulan daerah sekitar. 
          Maktab ini tidak perlu berbentuk sebuah bangunan untuk tempatnya, tapi tempatnya bisa dari tenda tapi akan lebih baik jika dikomunikasikan dengan pejabat setempat, agar bisa memfasilitasi ruang belajar untuk anak pulau Tanakeke. Maktab ini diagendakan rutin dilakukan selama tiga hari dalam sepekan dengan materi tergantung dari kebutuhan anak-anak tempat langgar itu didirikan. Maktab ini bisa diberikan nama sebagai IMMaktab, mengapa kemudian diberikan nama IMMaktab? Karena didalamnya terjadi proses belajar-mengajar yang tidak hanya mengajarkan tentang ilmu duniawi semata tapi juga menanamkan ilmu-ilmu agama dan orang-orang yang berada didalam IMMaktab ini setidaknya memiliki pengetahuan dasar.  
        Impian terbesar dari didirikannya IMMaktab ini bisa menghasilkan anak bangsa daerah yang cerdas, dan melalui IMMaktab ini secara tidak langsung bisa mengenalkan Muhammadiyah dan IMM ke anak-anak yang berada di IMMaktab tersebut beserta keluarganya. IMMaktab ini juga bisa menjadi ladang amal untuk kader IMM. Bukan hanya itu harapan besar lainnya, yakni IMMaktab ini bisa menggait anak daerah setempat yang tadinya tabu terhadap Muhammadiyah akan mengenal Muhammadiyah pada umumnya dan IMM khususnya.  
          Melalui IMMaktab ini diharapkan tidak hanya sekedar mengenal, tapi bagaimana kader IMM bisa menggiring anak-anak tersebut untuk ber-IMM dan menjadi kader IMM bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi orang yang berpengaruh di IMM dan juga Muhammmadiyah. Untuk sistematikanya, disini adanya pembagian kelompok untuk tiap kader baru dan pimpinan. Pembagian ini dilakukan agar kader IMM bisa terjun langsung kelapangan, dan bukan hanya seorang kader saja yang mahir tapi bagaimana kemahiran tersebut bisa juga ditransfer kepada orang-orang yang membutuhkan. Sejatinya hal ini akan membuat nama IMM semakin bergema diluaran sana karena bisa bermanfaat untuk orang lain. 
          Pengawalan bukan hanya itu saja, proses berikutnya yakni menyediakan wadah untuk seorang kader. Wadah ini mengarah untuk mengasah cara kader bisa memahami tentang literasi agar kader IMM memiliki paradigma ideal dan terfilterisasi. Wadah ini merupakan prosesi terakhir dari proses follow up untuk seorang tunas muda IMM, wadah ini bertujuan untuk menggenjot nalar kritis seorang kader itu sendiri.  
          Wadah ini bisa diberikan nama, yakni “Kampung Literasi”, lama kegiatannya yakni tiga hari lamanya. Untuk tempat pelaksanaan kampong literasi, yakni disebuah perkampungan terpencil, agar seorang peserta di kampung literasi ini bisa tenang dan fokus serta memaknai setiap proses yang terjadi didalamnya. Pelaksannannya memang harus disebuah tempat terpencil yang tidak ada aktifitas masyarakat, agar bisa memantik paradigma kader dan dari alam pula bisa membuat kader menghasilkan pemikiran yang cemerlang. 
          Kampong literasi membahas tentang bagaimana menanggapi sebuah problem kemudian bagaimana perspektif kader itu sendiri, kemudian perspektif kader dituangkan kedalam sebuah essai dan essai tersebut akan dipresentasikan, inilah salah satu rangkaian kegiatan yang akan terjadi didalam kampong literasi ini, bukan hanya pemberian materi tapi bagaimana bisa mengaktualisasikannya.  
          Wadah dan pengingat harus selalu diberikan kepada kader IMM, seperti kajian-kajian dan forum-forum membangun lainnya, hal ini sebagai pupuk agar kader IMM bisa menjadi pohon yang memberi banyak manfaat, jangan sampai kader IMM memiliki banyak pohon tapi tidak memiliki buah sedikitpun. Untuk menghasilkan regenerasi yang unggul maka harus diciptakan sebuah inovasi dan kreafitas untuk menarik minat kader. Disini diperlukan sebuah ketegasan dari seorang pimpinan terhadap kadernya.  
          Perlu sebuah ketegasan dan kegigighan badan pengurus harian agar kader baru bisa menikmati prosesnya walaupun di awali dengan keterpaksaan atas ketegasan pimpinan, tapi dengan cara inilah kader bisa menghargai sebuah proses dan tidak menyianyiakannya.Tuntun kader untuk bagaimana bisa terjun dalam dunia literasi, karena jika sudah menyukai dunia literasi, maka akan menggiring pada kematangan berfikir. Proses literasi bisa mengasah nalar kita dan dari situlah muncul paradigma yang terfilter, diperlukan sebuah proses yang tidak main-main utnuk menjadi suluh peradaban. 
          Menjadi suluh peradaban bukanlah hal yang main-main, maka dari proses yang tidak singkat itulah, para kader IMM bisa menghargai prosesnya. Disini juga diperlukan seorang patron, patron untuk seorang kader muda yakni pimpinan dan badan pengurus harian, patron inilah yang harus menunjukkan sifat, sikap dan perlakuan yang sehingga akan menjadi contoh bagi kader muda IMM. Hal ini selain untuk menjaga nama baik pribadi juga akan menjaga nam baik ikatan mahasiswa Muhammadiyah.
          Serulah kader muda IMM untuk bagaimana bisa mengembangkan potensi. Tanamkan dalam benaknya untuk tidak melupakan IMM dan ingatkan bahwasanya IMM bukan untuk orang-orang yang suci, tapi tempat untuk orang-orang yang ingin menyucikan diri, IMM ibarat sebuah bengkel untuk orang-orang yang ingin selalu berbenah. Ajarkan bahwasanya berIMM tidaklah sulit, cukup menanmkan cinta dan memaknai sebuah cinta hingga bisa menorehkan cinta itu kepada banyak orang.  


DAFTAR PUSTAKA 
Irianto, P.O. dan Febrianti, L.Y. 2017. Pentingnya Penguasaan Literasi Bagi Generasi Muda dalam Menghadapi MEA. The 1st Education and Language International Conference Proceedings. 1(1): 640-647. 
Putra, H.S.A. 2009. Paradigma Ilmu Sosial-Budaya: Sebuah Pandangan. Makalah. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. 
Sani, M.A.H. 2011. Manifesto Gerakan Intelektual Profetik. Edisi ke-1. Samudra Biru. Yogyakarta. Indonesia. 
Sholeh, A. 2017. IMM AUTENTIK: Melacak Autentisitas dan Substansi Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Edisi ke-1. Pustaka Saga. Surabaya. Indonesia. 
Yanti, Habib, Afif, Iva. 1990. Kelahiran yang Dipersoalkan. Edisi ke-1. PT Bara Ilmu. Surabaya. Indonesia. 
 
 
 

Komentar