IMM Sebagai Iron Stock Intelektual
Gerakan aktualisasi profetik dan tri kompetensi ikatan mahasiswa muhammadiyah menjadi salah satu tolak ukur kemajuan akademis persyarikatan muhammadiyah dan kemandirian bangsa yang berlandaskan al’quran dan as-sunnah. Kita sebagai kader persyarikatan ikatan mahasiswa muhammadiyah patut ikut berperan penting dalam mengoptimalkan gerakan profetik dan intelektualitas guna mencerahkan peradaban yang membawa kesejahteraan dan kemandirian bangsa di bidang akademis yang berlandaskan ajaran islam yang kaffah di tenggah tantangan zaman sekarang ini. Konsep tri kompetensi ikatan mahasiswa muhammadiyah sebagai salah satu patokan gerakan ikatan mahasiswa muhammadiya merupakan suatu konsep capaian yang mengutamakan nilai-nilai ke islaman dan kemanusiaan yang dibarengi dengan konsep keilmuaan.
Pandangan ini menjadi salah satu tolok ukur capaian apabila kader-kader ikatan mahasiswa muhammadiyah ikut berperan penting dalam mengaktualisasikan tri kompetensi ikatan mahasiswa muhammadiyah yang berwujud nuansa keilmuan, sehingga dalam menghadapi tantangan zaman dapat di lalui dengan penuh percaya diri dalam membangun ikatan di tengah tantangan zaman yang mengharuskan kita untuk ikut mengambil peran dalam mengejar ketertinggalan dengan membangkitkan kembali semangat juang ikatan mahasiswa muhammadiyah yang berjiwa profetik dan progresif yang bersifat solutif dan mencerahkan untuk bangsa yang lebih baik.
Paradigma Gerakan Intelektual Zaman Modern
Paradigma gerakan intelektual pada zaman modern ditandai oleh hal-hal sebagai berikut: Pertama, menganggap ilmu-ilmu keislaman yang ada sekarang merupakan hasil dari ijtihad yang belum final, dan karenanya perlu dilakukan reinterpretasi, reformulasi, reaktualisasi, dan rekontekstualisasi, sehingga memiliki daya relevansi dalam memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Kedua, menerima pendapat lama yang masih sesuai dan mengambil pendapat baru yang lebih sesuai (al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah). Ketiga, menganggap bahwa ilmu-ilmu keislaman yang ada sekarang sebagai yang sejajar, yakni sebagai sama-sama hasil ijtihad yang disamping memiliki kelebihan juga mengandung kelemahan. Keempat, meninggalkan pemahaman yang bersifat tekstualis, ideologis, skriptualis, dan doktriner.
Gerakan intelektual yang terjadi pada zaman modern antara lain bertujuan untuk mengatasi keterbelakangan umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, politik, budaya, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Dalam rangka melepaskan dunia Islam dari penjajahan dunia asing serta mencapai kemajuan sebagaimana yang dicapai dunia Barat. Sebagai upaya yang dilakukan dalam pembaharuan ini antara lain dilakukan dengan cara mendorong umat Islam agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, manajemen, disiplin, dan etos kerja yang tinggi, menghargai waktu, bekerja dengan perencanaan, bersikap terbuka, memiliki budaya riset, berpikir rasional dengan perencanaan, dan berani berijtihad ( Saputra, H ).
Apalagi di era sekarang ini dimana perkembangan teknologi informasi sangat mempengarui berbagai kalangan sosial masyarakat. Terutama pada masyarakat islam yang sudah dikelilingi oleh perkembangan zaman atau biasa kita sebut era globalisasi atau digitalisasi. Hal ini menjadi sebuah permasalahan utama yang dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat. Penting penanaman pengetahuan bagi masyarakat islam, sebab pengetahuan sangat mempengaruhi bagaimana masyarakat dapat melihat, memahami mana yang baik dan mana yang buruk yang dilarang oleh agama itu sendiri. Menurut Adib, H. M. (2011) Ilmu Pengetahuan adalah suatu pengetahuan tentang objek tertentu yang disusun secara sistematis sebagai hasil penelitian dengan menggunakan metode tertentu.
Oleh karena itu kader IMM saat ini di tuntun untuk selalu berpikir agar memecahkan sebuah permasalahan. Manusia terlahir dengan orang yang tersusun membentuk sebuah tubuh, organ tubuhpun terbagi dua, ada yang terlihat dan ada yang tidak terlihat. Dari organ tubuh tersebut manusia memiliki 5 panca indera yang digunakan untuk mendeteksi keadaan sekitar, dari proses mendeteksi melalui panca indera tersebut maka terlahirlah yang dikatakan pengetahuan. Berpikir adalah proses penggunaan kemampuan akal manusia untuk memahami lingkungannya yang mutlak terjadi dalam keadaan apapun dan kapapun kecuali dalam keadaan tidak sadar, proses berpikir inipun mempengaruhi diakuinya keberadaan seseorang, seperti yang dikemukakan oleh Rene Descrates yaitu “Saya berpikir maka saya ada”.
IMM saat ini menjadi wadah intelektual bagi kadernya yang dapat menjadi suluh peradaban serta penggerak dalam berbagai aspek kehidupan. IMM tidak pernah kehilangan kader yang berintelektual itulah kenapa kader-kader ikatan patut disebut sebagai iron stock intelekual ikatan. Sebutan iron stock bukan merupakan stock besi itu merupakan selogan yang menunjukkan bahwa kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah generasi yang memilki jiwa yang kuat seperti besi. Namun kader-kader ikatan yang berintelektual masih perlu adanya belajar akan sejarah kesalahan yang telah terjadi yang dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi hingga pada akhirnya iron stock intelektual yang sesungguhnya itu benar-benar terwujud dan tak terputus.
Seiring berjalannya waktu dan seiring perkembangan zaman IMM dan kader-kadernya menunjukkan sikap untuk melawan arus globalisasi. Ada tiga respon kader-kader IMM yaitu’ pertama merupakan respon terhadap realitas makro yang menyebabkan dehumanisasi. Kedua, respon terdapat diri (Internal) IMM yang membutuhkan paradigma gerakan dalam rangka menyikapi realitas sosial. Ketiga, respon terhadap amal usaha dan sejarah Muhammadiyah (Sani, M. A. H. 2011).
Olehnya itu IMM sebagai iron stock intelektual harus betul-betul membuktiktakan bahwa sifat intelektual menjadikan ia bersikap aktif dalam pembenahan terhadap realitas sosial. Sebagai seorang kader intelektual tentunya harus mampu menjawab persoalan-persoalan sosial, ekonomi, penyadaran hak-hak politik rakyat, serta pengembangan masyarakat. Saya rasa inilah yang ditunjukkan oleh kader-kader IMM saat ini bahwa IMM memiliki gerakan intelektual yang nyata dalam menyikapi semua persoalan yang terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Adib, H. M. 2011. Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan.
Sani, M. A. H. (2011). Manifesto gerakan intelektual profetik. Samudra Biru.
Saputra, H. Paradigma Gerakan Intelektual Islam Pada Zaman Klasik, Modern dan Postmodernisme.



Komentar
Posting Komentar